Sumber gambar: @BadanBahasa

Belajar bahasa sama artinya dengan belajar berkomunikasi. Ketika kita berbahasa dengan baik, maka akan membuat gagasan kita mudah diterima dan disenangi banyak orang. Sebagai makhluk sosial, sangat penting bagi manusia untuk menjalin komunikasi dan berinteraksi dengan sesama. Orang yang dalam hidupnya sering menyendiri tentu lebih banyak mengalami kesulitan daripada orang yang memiliki banyak relasi.

image here

Setiap orang mengalami peristiwa hidup yang berbeda, pengalaman yang berbeda dan pasti kehidupan yang berbeda. Kita manuisa hanya diperintahkan untuk bertindak, selebihnya biarkan Tuhan yang berkehendak. Ada yang miskin harta tapi kaya hati, pun sebaliknya. Ada juga yang kaya, hidupnya sejahtra, tapi cuek-cuek saja. Tak masalah, semua itu adalah pilihan yang sudah pasti memiliki konsekuensi. 

Lalu bagaimana dengan pilihan menikah cepat? 

Akhir-akhir ini saya memang agak sensi dengan pertanyaan, “Kapan menikah?” lalu apa salahnya jika saya diusia yang masih 24 tahun belum ingin menikah? Memabayangkan pun belum ingin. 

Bukan berarti saya tak suka dengan lawan jenis. Saya pun ketika dalam kondisi letih sering merindukan bahu dan seseorang untuk diajak berbagi drama hidup, yang kadang semua harus disikapi dengan kepala dingin. Ketika melihat postingan teman-teman yang sudah memiliki pasangan di media sosial, kadang saya merasa iri dan terbawa perasaan. 

Sayangnya, kita tidak bisa menyamakan kehidupan kita dengan orang lain. Mereka punya cerita sendiri, pekerjaan sendiri, takdir sendiri. Kita ya kita, mereka ya mereka. Tak masalah jika mereka siap terlebih dahulu untuk hidup dalam bahagianya rumah tangga. Bersiap mendidik generasi bangsa yang hebat dan bermanfaat bagi sesama. Mereka mampu melakukan itu. And way not? Itu tugas mulia bukan? 

Begitu pun dengan cerita hidup saya. Prioritas saya saat ini adalah; ingin bekerja, belajar dan berkegiatan yang bermanfaat (cari pengalaman kalau bahasa klasiknya). Apa saya salah jika berkeingian seperti itu? Tentu bukan! Karena saya pun sudah berusaha merealisasikan impian itu. Alhamdulillah, banyak kegiatan (AMJ, KI_Jepara, dls) memuat saya banyak bertemu orang baik, kegiatan yang positif, dapat tambah ilmu yang juga bisa saya gunakan untuk hidup berumah tangga kelak. Jadi saya anti dengan pertanyaan ‘kapan nikah?’ bukan karena jomblo atau tidak normal, semua karena saya masih ingin belajar untuk membangun rumah tangga yang baik. 

Lalu kapan saya akan menikah? 

Kelak, jika sudah waktunya, Allah memberikan jalan dan ada seseorang yang mampu mengubah prioritas hidup saya. Lekas, saya pasti akan mengabari kalian. Entah, saya udang ke pesta atau tidak, tapi pasti akan saya kabarkan! 






Sejak pertama membaca bukunya Dan Brown yang Inferno, saya langsung kecanduan untuk membaca semua buku-buku Dan Brown. Tak ada yang membosankan pada alur yang diceritakan oleh penulis kelahiran Exeter, New Hampshire, Amerika Serikat, 22 Juni 1964 tersebut. Semua peristiwa pada novel terjadi kurang dari 24 jam, dan ini membuat pembaca selalu tidak ingin berhenti membaca alur cepat yang disuguhkan. 

Konsep Dan Brown dalam menulis adalah ‘lebih sederhana lebih baik’. Jadi, jarang berharap kita akan menemukan kalimat puintis yang bertele-tele pada novelnya. Pada beberapa bagian, Dan Brown selalu memberikan penjelasan dari hasil risetnya dengan sangat jelas dan kalimat singkat. Padahal, suami dari Blythe Brown tersebut mengaku memiliki detail plot yang cukup panjang. Blythe selalu memberinya hasil riset yang banyak. Tapi pada akhirnya, Dan Brown mengungkapkan bahwa kunci dari kesuksesan The Da Vinci Code adalah karena dirinya sering menggunakan tombol delete pada tulisannya. Satu bab pada The Da Vinci Code, mungkin sebelumnya ada 10 halaman yang terbuang di tempat sampah. 

Kesederhaan bahasa dan ditambah informasi penting di dalam buku, jelas membuat buku Dan sangat memikat. Saya jarang merasa bosan atau ngantuk ketika membacanya. Alurnya begitu cepat dan rapat, sampai membacanya terkadang membuat napas berhenti. Dan Brown jelas ingin memasukkan banyak informasi dalam bukunya. Tapi Dan juga tidak ingin bukunya menjadi banyak deskripsi seperti buku pelajaran sekolah. 

Sebelum menulis novel, Dan Brown benar-benar mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dan dirinya baru akan menulis saat sudah sangat paham tentang isu yang akan diangkatnya. Ada pun langkah Dan Brown dalam menyusun kerangka cerita adalah sebagai beriku: 

1. Lokasi, lokasi, lokasi: bawa pembacamu ke dunia baru.

2. Membangun adegan luar dalam: selalu bergerak.

3. Pertanyaan dramatis: Bangun fondasimu dengan satu buah batu bata.

4. Ciptakan ketegangan dengan tiga C: The Clock – Jam: Tempatkan aksi di bawah baying-bayang jam terus berdetak; The Crucible – Ujian: Desak karaktermu saat kau menampilkan ketegangan; dan The Contract – Kontrak: Berjanjilah kepada pembaca, lalu penuhi janjimu.

5. Spesifik: Belajar sebelum mengajari. Riset, riset, riset.

6. Mengayam informasi: Keluarkan informasi dalam potongan-potongan satu-suap.

7. Revisi: Yang paling menyenangkan. Setelah menulis draft pertama, kembali dan bermain-main dengannya.

NB: Tulisan diambil dari buku "Dan Brown a Biography". 


Bersama keberanian, merangkak mencari janji berpasangan dengan cempaka

Akankah, semua rindu dan penantian bermuara pada pelangi yang setelah hujan terkadang alpa menemani langit?

Akankah, jika tidak bisa senasib maka datang dengan yang lebih baik?

Cempaka itu selalu setia

Tidak mengenal usia dan perbedaan alam yang biasanya membawa perpisahan

Terima kasih kepada masa lalu yang selalu memberikan pemahaman untuk kuat

Menyulam hari dengan sisa-sisa kebahagiaan yang hampir runtuh

Aku masih menjadi cempaka yang setia menikmati setiap jengkal masalah

Melampiaskan resah dengan memberi kontribusi bersama segudang kesibukan

Harapan itu belum hilang

Masih ada cempaka setia yang selalu mendokan di bawah tanah lapang yang menyimpan sejuta cerita


Sinna Sa’idah Az-Zahra, 

Jepara, 11 November 2015. Pukul 22.45 WIB.

Sejak kecil saya sudah diajarkan guru fikih saya, bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Menginjak usia dewasa, saya menyadari bahwa isi kepala setiap orang berbeda-beda. Pengetahuan yang didapatkan, lingkungan bergaul dan tempat tinggal membuat karakter orang menjadi tidak sama. Jika sudah berbeda, memaksakan cara kita kepada mereka, hanya akan membuat hati lelah. Pada titik ini, keilmuan seseorang melalui akal akan membawanya pada sebuah pilihan, entah itu pilihan ‘benar’ atau yang ‘kurang tepat’, baik untuk menentukan sikap tetap ‘tinggal’ atau ‘meninggalkan’.

Anggap saja sebuah perbedaan di dalam kelompok merupakan sebuah proses pendewasaan, maka hal itu pasti akan berdampak baik. Tapi sebaliknya, perbedaan hanya akan memicu pertentangan jika hati tidak ikhlas dalam mengerjakan suatu amanah. Karena ada motif tertentu, maka kita hanya akan memaksakan kehendak dan bersikap otoriter.

Masalah kelompok jelas lebih kompleks daripada masalah pribadi. Karenanya, dibutuhkan mental yang kuat untuk memperjuangkan ideologi tanpa perlu saling mencaci. Hujatan hanya akan membawa hujan kebencian, sementara paksaan akan menciptakan ketidaknyamanan. Jadi, prinsip dalam berkelompok agar kegiatan sukses menurut saya adalah, kita harus menyimpan ego dan melihat manfaat yang lebih luas di dalam gagasan orang lain.

Saya sangat yakin, jika para pejuang kemerdekaan dulu terlalu mementingkan ego dan tidak memperhatikan kebutuhan kelompok. Pastilah Indonesia tidak akan merdeka. Strategi perang mereka jika tidak kompak, pasti akan tercecer dan akhirnya kalah. Akan tetapi, setelah mereka mau mengesampingkan ego, tidak menghina kaum bercelana dan selebihnya, kekuatan mereka akan menyatu dan mewujudkan satu tujuan, yaitu Indonesia merdeka.

So, mari kita membuka mata untuk lebih peka terhadap setiap perbedaan dan tidak menyombongkan diri terhadap semua yang sudah kita capai. Karena di balik kesuksesan seseorang, pasti ada tangan lain yang turut menyumbangkan kebaikan demi kesuksesan seseorang itu.
ilustrasi search here

Saya selalu percaya: bahwa setiap orang dilahirkan di muka bumi ini dalam keadaan baik dan suci. Coretan pola asuh dan tinta pendidikan, nantinya yang akan membentuk psikologi dan karakter seseorang.

Sementara, satu hal yang harus disyukuri manusia adalah: bahwa ampunan Tuhan itu lebih luas daripada murka-Nya. Dari sini, seharusnya kita bisa menyimpulkan, jika ‘selalu ada jalan untuk taubat dan pulang kepada keadaan yang baik’. Ingat! Di dunia ini, semua yang ada akan tiada pada akhirnya, kecuali Tuhan! 

Belakangan, banyak sekali berita negatif yang membuat saya miris, mulai dari mahasiswa yang dibully, remaja gagal move on lalu bunuh diri, kelompok radikal, narkoba etc. Semua berita tersebut fakta dan hampir setiap hari kita mendengarnya. Terkadang saya berpikir seperti ini, “Dengan kasus sebegitu emboh-nya apa Pak Presiden dan jajaranya masih bisa tidur? Menteri Pendidikan gak ngelus dada lihat para pelajar yang dengan tampilan sok yes, naik motor dijampingkan, padahal motor dan uang saku masih minta orangtua?” 

Semua sistem yang ada seperti gagal membentuk bangsa ini menjadi bangsa yang ramah serta beradab sebagaimana yang dicitrakan selama ini. Lalu, apakah di sini sudah kekurangan orang pintar sehingga semua seperti gagal? Jawabnya ‘tidak!’ bahkan jika kita amati di semua jenjang pendidikan, banyak dari mereka yang mengalami peningkatan jumlah siswa secara kuantitas setiap tahunnya. 

Lalu, apa yang kurang? 

Jawaban iman dan taqwa pasti sudah klise, meski itu hal yang wajib dan memang harus ada. Satu hal yang sering kita lupakan adalah, kemauan untuk mengosongkan gelas dan mengisinya dengan ilmu yang baru, serta mau bergerak sedikit saja melakukan satu program yang berkelanjutan untuk kamajuan bersama, bukan tentang ‘aku’ lagi tapi ‘kita’

Kita semua sama-sama tahu bahwa, ilmu pengetahuan akan selalu berkembang sejalan dengan riset yang melandasinya. Maka, menyirami alam ini dengan pengetahuan yang benar (pengetahuan apa pun) akan menjadi salah satu solusi bagi penyakit sosial. Dengan demikian, semua harus belajar dan bersama dan tidak boleh ada yang sombong. 

Terkadang, karena tidak mau repot, kita menutup mata dan tidak mau mengosongkan gelas. Kesombongan mucul dan semua sistem (sistem sosial baik) yang telah ada sebelumya menjadi kacau (anak-anak tak terdidik didik dengan baik, tak punya kepekaan, hamil di luar nikah, bunuh diri). Bayangkan saja, jika kekacauan itu menimpa keluarga atau atau anak kita? Contohnya sudah banyak, anak dari keluarga baik-baik pun belum tentu tidak salah jalan. 

Demi mencegah semua itu, transformasi wajib di lakukan, mengosongkan gelas bukan berarti kita melepas keilmuan kita, namun kita hanya meng-update supaya pikiran kita tambah jernih dan kaffah. Sistem berkelanjutan untuk membentuk generasi yang peka dengan situasi sosial, tak melulu tentang apa yang saya dapat, tapi apa yang saya berikan. Toh, jika kita sibuk dengan hal yang baik, maka tak akan rugi kan? 

Umat sudah lelah dengan semua informasi negatif, keluarga kita belum tentu selamat dari masalah sosial yang belakangan viral, bahkan saya yang menulis ini pun selalu berdoa agar selalu berada di jalan yang benar. Sekali lagi, saya hanya memberikan informasi bahwa sistem yang berkelanjutan dalam bentuk kegiata apa pun akan membentuk suatu ekosistem yang memimiliki keguanaan besar. 

Terakhir, saya hanya bisa menulis karena memang itu yang saya bisa. Mungkin tidak semua tulisan saya ini benar, pun tidak semuanya sepakat. Bahkan pengetahuan saya tentang gelas juga minim. Tapi dunia harus tahu, bahwa kita terlahir dalam keadaan baik dan tak ada proses yang kebetulan sehingga kita bisa menjadi seperti sekarang ini.
Hai! How are you, Dear?  

Special banget akhirnya bisa nulis di Hari Sumpah Pemuda. Alhamdulillah, yah :D 

Sumpah pemuda selalu identik dengan semangat kepemudaan. Semangat yang tidak pernah lelah untuk turun tangan membantu dan mencari solusi pada setiap masalah di negara ini. Mengurus negara memang tidak mudah, jadi daripada kita mengutuk dalam kegelapan, akan lebih baik kalau kita menyalakan lilin kecil demi kemajuan bangsa. 

Rejeki anak solihah :D 

Bulan Oktober sendiri sangat special bagi saya, banyak sekali serangkaian acara yang harus saya datangi sehingga mengantarkan saya untuk bertemu orang-orang hebat yang membuat saya terinspirasi. Meski ada sedikit kesedihan juga yang membuat saya merasa lelah dan ingin menagis di sudut, tapi ya inilah hidup. Ada fase dimana kita merasa jadi orang yang paling bahagia sedunia, tapi ada waktunya pula kita harus menangis dan merasakan sedikit tamparan. 

Well, sekarang saya akan bercerita sedikit yang bahagia saja, sedihnya disimpan sendiri. Hehehe. 

**** 

Bagi saya, bisa bertemu dengan orang hebat yang mampu menebar manfaat dan belajar dari mereka adalah suatu hal yang tak ternilai harganya. Apalagi jika kita bisa memiliki kesempatan untuk bertanya, berfoto atau berbicara di depannya. Pasti itu akan sangat menyenangkan. 

Sekitar awal Oktober kemarin, Allah memberikan saya kesempatan untuk bertemu dan presentasi di hadapan puluhan orang (pustakwan) terkait impact dari program Perpuseru Cola-Cola Foundation. Kebetulan saat ini Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jepara memang menjadi tempat nongkrong yang asyik setelah sehari saya sibuk dengan kegiatan kampus dan laporan dari Bos Besar yang terkadang bikin kepala pusing. Di sana pula saya bertemu dengan banyak penulis yang dikemudian hari menjadi guru saya dan juga teman-teman baik yang seru dan keren. Singkatnya, pelayanan di Perpusda sudah dapat membawa perubahan dalam kehidupan saya, di samping pendidikan formal. 

Mayoritas orang hanya tahu kalau perpustakaan cuma sebagai tempat pinjam dan baca buku saja, sehingga efek-nya kurang menarik. Saya sendiri kalau urusan buku lebih suka beli daripada pinjam, atau kalau tidak, juga bisanya bertukar buku yang sudah dibaca dengan teman sesama pecinta buku. Beli buku 8 judul biasanya juga gak habis dibaca setahun. Oleh karena itu, program PerpuSeru hadir untuk merubah perpustakaan ‘bukan hanya sebagai tempat baca dan pinjam buku juga, tapi juga tempat untuk berkegiatan masyarakat.’ Dengan demikian, masyarakat dapat duduk bareng dan bermitra bersama-sama mencari ide untuk menjadikan hidup lebih baik. 

Alhamdulillah dapat kado dari PerpusSeru Cola-Cola Foundation.

Rejeki anak solihahhhhhaaa, bisa foto sama orang-orang kece.

Alhamdulillah, berkat program tersebut saya sudah bisa merasakan manfaatnya. Dulu, saya tidak bisa menulis dengan baik dan masih bingung tentang dunia fiksi dan jurnalistik, loh. Tapi, berkat ikut kelas Akademi Menulis Jepara (AMJ) di Perpusda Jepara, Alhamdulillah barokalloh, sekarang sudah punya teman penulis banyak dan bisa belajar dari mereka. Bahkan sekarang dapat kerjaan juga berkat menulis. :D 

Semua peristiwa itu sudah cukup membuat saya jatuh cinta dengan program PerpuSeru. Bahkan ketika ke toko untuk membeli minuman saya juga lebih mengutamakan untuk membeli prodak Cola-Cola Foundation. Pernah pula suatu hari saya berkeinginan untuk bertemu dengan orang-orang baik di balik layar Program PerpuSeru. Finally, Alhamdulillah lagi, Barokalloh, pada awal Oktober saya punya tiket dan berksempatan bertemu mereka. Bisa presentasi terkait pengalaman saya selama ikut AMJ di Perpusda juga, yang entah juga bagaimana penampilan saya di depan mereka. :D *Asli, waktu nulis ini saya ingin loncat-loncat karena bahagia* 

Nah, Cas cis cuss entah, emess banget saya,
 pengen loncat-loncat waktu ptesentasi :D 

Bukan cuma sampai di situ, kalau awal Oktober saya bertemu dengan orang-orang baik di balik layar PerpuSeru, akhir Oktober saya berkesempatan untuk berfoto dengan Direktur Porgram PerpuSeru Cola-Cola Foundation (CCFI) dr. dr. Erlyn Sulistiyaningsih pada acara Seminar Nasional yang diadakan oleh Perpusda Jepara. Satu pesan yang saya tangkap dari apa yang dibicarakan Ibu Erlyn adalah 'yuk kita bersama-sama memajukan perpustakaan dan menjadikannya tempat belajar untuk merubah hidup lebih baik. Perpustakaan bukan tempat untuk duduk saja, tapi juga tempat untuk berkegiatan masyarakat. Sehingga kita bisa menemukan ide dan mitra untuk memajukan dunia pendidikan, ekonomi dan kesehatan.' 

Foto sama Ibu Erlyn (Sebelah kiri) dan Mbak Ratih (kanan), fasiltator PerpuSeru.

Gak sengaja jilbabnya sama.

Dear, banyak surve mengatakan bahwa kegiatan literasi kita masih cukup rendah. Jadi tidak mungkin kita bisa menyelesaikan pendidikan kita hanya sampai di jenjang pendidikan formal saja. Oleh karena itu, di sini perpustakaan hadir sebagai tempat untuk baca buku plus duduk bersama mencari mitra dan berkegiatan supaya kehidupan kita menjadi lebih baik. 

Nah, ngeri banget lihat data ini.

Next, dari Ibu Erlyn saya juga baru tau kalau Bil Gates dulu setelah di DO dari kampusnya, dia jadi selalu setiap hari berkunjung ke Perpustakaan sehingga akhirnya dia bisa menjadi cetar dengan Microsoft-nya. So, gimana? Amzing kan? Untuk melakukan sesuatu dan merubah hidup kita tidak perlu jadi kaya dulu kok, cukup gerak sedikit saja, dan jadilah orang tenang. Meski ada bantuan materi segede Gunung Himalaya kalau tidak dibarengi dengan peningkatan SDM yang baik juga hasilnya tidak akan memuaskan. 

So, yuk kita sama-sama ramaikan perpustakaan dan menjadikannya sebagai tempat belajar dan berkegiatan. InsyaAlloh kamu juga bisa merasakan manfaat yang baik sama seperti saya dan teman-teman. Perubahan hidup yang baik jelas akan membuat pembangunan mental dan fisik di negara kita menjadi berkembang. Nah, jadi dapat point double, kita pintar negara kita juga makin maju.Yes! sukses terus dan selamat berkarya! 

ilustrasi by me

Aku menutup Buku Biru yang sudah dua tahun mendokumentasikan segala kisah tentangku. Tangis, tawa, susah dan bahagia menjadi pelajaran hidup yang tidak bisa dihitung dengan rupiah. 

Buku Biru dikenalkan Hitam kepadaku sebagai teman bercerita, teman berkeluh kesah, dan teman beradu pendapat setelah ia pergi tanpa pamit. Status kekasih yang berubah menjadi mantan mungkin membuat ia terlampau sakit. 

Sebagaimana aku yang juga sakit. Hampir setiap malam aku menulis sebait kisah, kemudian berbincang dengan Buku Biru. Bagiku, Buku Biru memiliki nyawa dan sosok yang sama seperti Hitam. Ia adalah tempat yang nyaman untuk bersandar dari segala lelah. Ia juga teman yang romantis untuk diajak bersama memandangi bintang di langit. 

“Tulis saja apa yang kamu inginkan di buku ini, suatu saat kamu pasti akan mendapatkannya,” kata si Buku Biru kepadaku. 

Aku mengerutkan dahi berpikir memberikan gagasan yang logis, “Aku hanya ingin Hitam, mana bisa buku mewujudkan impian jika kita tidak berusaha.” 

Entah takdir apa yang terjadi. Aku melihat Hitam tersenyum, memegang tanganku memberikan buku biru dan pensil biru sampai aku benar-benar menggenggamnya. Kelak aku akan tahu, dia hanya ingin aku melangkah dengan teratur dan pasti. Mencatat setiap resolusi hidup yang aku bangun kemudian belajar membuat keputusanku sendiri.


*** ditulis untuk mengenang seorang teman dekat. kita tidak pernah salah berteman dan bertemu. selamat. karena sudah menemukan pilihan lain yang baik dan tepat.  
Team Komunitas Bukalapak Jepara. 

Bukalapak Jepara dan Post Indonesia. 


Hallo, selamat sore Sahabat Blogger… 

Selain lagi semangat belajar menulis, akhir-akhir ini saya juga lagi iseng belajar bisnis. Bulan Agustus kemarin sempat ikut salah satu komunitas jual beli online di Bukalapak.com Senang sekali rasanya kalau kita punya teman baru dan kenalan baru yang ramah, tidak sombong dan tidak sungkan untuk membagikan ilmunya. 

Belakangan saya juga sering kepoin salah satu ranger di komunitas Bukalapak Jepara Om, Fatih atau yang terkenal dengan TS (Tukang Sarung). Bayangkan, sarung saja sudah dikirim kemana-mana loh. Apalagi produk kece lainnya ya? Yes. Semoga menjadi inspirasi ya. Om Fatih dan isteri ini juga orangnya sangat ramah dan bersahabat banget loh. 

Dari situ, saya selalu yakin bahwa semakin besar seseorang, maka ia akan semakin merunduk, tidak pernah merasakan paling WAO sedunia atau menyombongkan diri. Ibaratnya semakin padi itu berisi, maka akan semakin merunduk. 

Baju Hitam itu Om Fatih yang baik sedunia. 

Baju merah isterinya TS, Umi Fatih yang cantik sedunia.

Kopdar komunitas Bukalapak Jepara pada 25 September 2016 di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jepara lebih banyak diisi dengan sharing, cara jual beli online dan sedikit motivasi bagi para pelapak agar semakin aktif dalam memposting produknya. Bagi saya sendiri masih awan tentang dunia bisnis dan jualan. Baru dipertengahan 2016 lalu coba-coba untuk jualan online via instagram dan facebook. Produk fashion yang saya unggah rata-rata dari bahan tenun kain Torso yang sudah disulap menjadi tas, dompet atau syal. 

Kain Tenun Troso 

Tas dari Kain Tenun Troso. 

Kopdar komunitas Bukalapak Jepara, ternyata tidak cuma dihadiri oleh pelapak Jepara saja, coordinator dari Bukalapak Jakarta dan juga di luar kota lainnya juga turut hadir. Selain itu, ada juga pihak Post Indonesia yang sempat memberikan masukan dan sharing dengan para pelapak. Kita semua jadi serasa tambah ilmu banyak banget. 

Hal yang menarik dari komunitas Bukalapak yaitu, diakhir acara biasanya banyak pelapak yang saling bertukar produk atau bagi-bagi hadiah. Saya kalau boleh jujur baru kali ini loh datang ke acara yang banyak banget hadiahnya. Semoga jualannya para pelapak tambah berkah ya Om dan Tante. Hehehe. 

Ini favorite banget.

Nah, kalau ini Om Lutfi, dulu dia yang ngajarin kita melapak.

Kalau ini Pustakawan yang super kece badai, Om Irul :D 

Ini Tante Susi Indra yang ngasih saya bros banyak banget. Terima kasih ya. :) 

Oleh-oleh dari Post Indonesia.

Well, terima kasih juga buat Tante Susi Indra yang sudah ngasih saya hadiah bros handmade yang cantik-cantik. Dekat dengan kalian semoga saling bermanfaat dan bisa saling berbagi ilmu ya, kalian kece dan luar biasa. Next kopdar semoga bisa ikut gabung ya? :D Btw ini adalah link akun buka lapak saya, yuk kepoin barang saya :D www.bukalapak.com/sinnabatik

Edisi dibalik layar Kopdar Bukalapak.


Apalah saya, cuma jadi tukang sapu Perpusda :D 

Ini pasangan yang lagi ngehitz Om Indra dan Tante Susi.
Pak Ganjar memberikan kuliah di Unisnu, 
wah yang pakai jilbab merah itu saya loh.. :D 

Terkadang saya merasa perlu untuk sesekali bertemu dan bergaul dengan orang besar. Bukan karena saya ingin dipandang wah, atau eksis saja. Namun, guna meraih mimpi yang bersar kita juga harus melakukan hal yang besar. Termasuk bertemu dengan orang yang besar. 

Suatu sore, tepat di tanggal 21 September 2016, Saya berkesempatan bertemu sangat dekat dengan salah satu pejabat tertinggi di Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Well especially saya memang sangat tertarik sosok beliau yang terkenal ramah dan tanggap. 

Sebenarnya, Gubernur Jawa Tengah tersebut datang ke kampus Unisnu untuk mengisi acara kuliah perdana bagi mahasiswa baru. Bagi saya yang sudah sering menghadiri acara kuliah perdana atau kuliah umum, moment kemarin adalah kuliah perdana dengan narasumber terbaik yang pernah diundang oleh pihak kampus. 

Unisnu dalam hal ini tidak hanya butuh sosok yang memiliki jabatan tinggi saja, tapi kampus hijau tersebut juga perlu mengundang orang yang benar-benar memiliki kemampuan intelektual, motivasi dan semangat yang tinggi. Hal ini sangat penting karena komposisi mahasiswa universitas tersebut berbeda dengan kampus lain. 

Pada acara kuliah perdana tersebut, Pak Ganjar berpesan agar mahasiwa memadukan kemampuan berpikir yang kemudian dibantu dengan smartphone atau teknologi untuk bisa mencapai kesuksesan. Menurut Pak Ganjar, kuliah merupakan proses untuk mengasah ide kreatif dan konsistensi bagi para mahasiswa. Dan kemampuan berpikir yang kreatif dan inovatif inilah yang nanti akan membuat kita bisa bersaing dengan negara lain. 

Kurang lebih selama satu jam Pak Ganjar menyampaikan buah pemikirannya di hadapan ribuan mahasiwa Unisnu. Selain berkunjung ke kampus, beliau juga menyempatkan diri untuk berdialog dan menyapa warganya di Omah Joglo, Jepara. Di sana, bersama ratusan warga dan puluhan anak-anak, pejabat yang pernah dinobatkan sebagai gubernur inovatif di bidang transparansi pelayanan publik tersebut membahas masalah isu perdamaian. 

Finally, ada tiga point yang masih saya ingat dalam kunjungan tersebut, yaitu jika kamu ingin sukses dan dihargai orang, maka cintailah orangtuamu, gurumu dan negaramu. Semoga beliau benar-benar amanah ya friends. Next time semoga bisa bertemu dengan orang hebat lagi supaya termotivasi.

Bersama Pak Ganjar di Omah Joglo, Jepara. 

Twitteran sama Pak Ganjar :D... Entah beliau pakai admin atau tidak, 
katanya sih gak pakai admin :) 


Foto bersama seletah kegiatan refleksi kelas inspirasi Jepara

Apa kamu pernah mendengar teori bottom rock in life? Jika tidak duduklah, saya akan bercerita tentang batu-batu keras yang menghantam kehidupan saya. Pertama saat saya menyadari bahwa melepas terkadang adalah hal baik yang harus kita lakukan untuk keadilan. Melepaskan tangan yang sangat erat selalu menimbulkan noda hati yang entah sampai kapan ia akan kembali bersih. Terlebih jika sosok yang menggandengmu itu telah memberikan energi positif untuk terus maju ke depan. Kedua, saat saya menyadari bahwa setiap pertemuan adalah perpisahan dan saya paling membenci perpisahan. 


6 bulan bersama kalian (panitia lokal alias Panlok Kelas Inspirasi Jepara) menyatukan visi untuk membangun Jepara melalui pendidikan dengan cara menginformasikan beragam profesi kepada siswa sekolah SD. 6 bulan lamanya kami menyempatkan diri menghadiri rangkaian meet up di sela-sela kegiatan kami yang juga beragam. Tidak jarang kami pun menempatkan jeda waktu istirahat untuk membaca ratusan bahkan ribuan chat di grup wa panlok yang berisi list penting untuk KIJPR1 dan tingkah laku konyol panlok yang justru menambah keakraban team. 



Alhamdulillah, semua usaha kami terbayar. Tepat di tanggal 1 Agustus ratusan anak-anak telah menuliskan cita-cita mereka. Jalan mereka tentu masih panjang untuk mengambil tanggung jawab atas apa yang telah mereka tulis. Namun, nothing impossible in this world. Akan selalu ada tangan yang menggenggam di saat kita lelah. Orang baik pasti akan dipertemukan dengan orang baik. 

Menjadi bagian dari kalian adalah menyenangkan, berpisah dari kalian adalah salah satu bottom rock dalam hidup saya.

Bersama kalian, saya belajar untuk rendah diri, saling melengkapi dan tidak mudah terbawa emosi. Kini, meski tugas utama kami di hari inspirasi telah selesai, namun chat di group kami tetap tidak pernah sepi. Banyak hal menarik kami ulas di dalamnya, dan tentu itu adalah salah satu cara kami menjaga silaturrahim dan bertukar pikiran untuk mencari solusi dari setiap kegaduhan di dalam hidup ini. 


Kelas Inspirasi Jepara team SDN 1 Batukali

Rilis Kelas Inspirasi Jepara di Suara Merdeka


Biarkan terus seperti ini :D 

Pernahkan kamu merasa bahwa dunia ini seperti menghakimimu? Meneteskan air mata seorang diri dan berpikir di dunia ini tidak ada lagi yang merasa sayang kepadamu? 

Kebenaran yang datang adalah, bahwa di dunia ini kita selalu hidup dengan perlindungan. Entah itu perlidungan dari orang yang kau cintai seperti orangtua, bahkan kekasih hati semacam superman atau wonderwoman yang bisa kamu pegang tangannya dan bersedia meminjamkan bahu dan dadanya sebagai tempat kita untuk menenangkan diri disaat kita tengan gundah dengan segudang permasalahan hidup. 

Ayah yang sangat sayang dan bertanggung jawab tidak perduli sesulit apapun kehidupan, Ibu yang meski susah payah ia tetap menyiapkan kebutuhan tanpa pernah mengeluh rasa lelah. Apa cinta mereka tidak tidak cukup untuk kita (sebagai anak) merasa cukup untuk merasa terlindungi dan bersyukur? Lantas kita lebih memilih berteman dengan orang asing di malam minggu dan pulang larut dalam keadaan lelah. Di hari berikutnya pun Ayah dan Ibu masih sama cintanya, ia tidak membiarkan rasa sayang dan cinta itu berkurang satu persen pun. 

Memasuki usia dewasa kita memiliki banyak teman, sahabat bahkan pacar. Sosok yang mungkin bisa kita sebut lebih asik dari orangtua kita. Lalu apa yang terjadi? Di saat sedikit masalah datang, mereka mendadak menjadi daftar list orang yang tidak ingin kita temui. Apalagi kalau putus dari pacar, kita mati-matian ingin melupakannya, mengahapus semua foto di laptop dan handphone, mem-blokir semua akunnya di sosmed yang kita miliki dan menghapus nomornya dari daftar kontak kita. 

Lain halnya dengan masalah yang kita miliki dengan keluarga kita. Kita tidak pernah mengenal mantan ibu atau mantan ayah bukan? Semua jelas, dan saya sedang belajar dewasa untuk menerima takdir bahwa seberat apapun beban yang saya miliki, Allah telah mengirimkan malaikat untuk membuat saya tetap berdiri tegak dan memandang ke depan. Di depan ada banyak hal yang harus kita perjuangkan. Di depan ada banyak hal yang menunggu uluran tangan kita. 

So, mari berpikir positive untuk ketengangan hari ini karena akan ada tangan yang selalu menggenggam tangan kita.


“Kalau kamu memang seorang Detektif seharusnya kamu bisa menganalisis hatiku kan?” Ran mulai menumpahkan amarahnya, memalingkan muka, dan berlari menjauhi Shinichi. Tangisnya sudah pecah. Emosi yang sedari tadi diendapnya akhirnya keluar juga.
“Ran! Tunggu dulu!” Shinichi mati-matian mengejar gadis yang disukainya itu. Ran masih tak begeming.
“Kau ini rumit tau!” teriak Shinichi saraya meraih tangan Ran.
“Lepaskan! Lepaskan!” Ran mulai memberontak.

Membacalah untuk sekadar melepas kekesalan dan emosi! Jika membaca buku dengan tema yang berat membuatmu semakin emosi karena banyak istilah yang emboh, buku-buku ringan atau novel ringan mungkin bisa membantumu untuk sedikit merasa ringan hati meski tak sempat piknik. 

Membaca novel sejarah karya Kang Abik ini, kita akan seperti membaca buku sejarah yang difiksikan. Jika sebelumnya saya tidak pernah mendengar nama Baiduzzaman Said Nursi, entah kenapa saya kok jadi merasa seharusnya nama Said Nursi itu sudah saya ketahui sejak saya sekolah EMTEES (Mungkin saya pernah mendengar tapi saya yang lupa).

Said Nursi yang hidup di masa Turki Usmani paham betul, bahwa Kholifah Turki akan runtuh akibat rezim barat dan ateisme yang pelan-pelan dipaksa masuk lewat jalur pendidikan yang meracuni pola pikir.

Dalam novel ini dijelaskan dengan detail bagaimana Said Nursi ingin membangun universitas untuk tetap menjaga agar ilmu agama dan budaya Turki tidak hilang, tapi selalu dihalangi oleh pemerintah akibat sistem yang sudah dikuasi barat. Madrasah dilebur menjadi sekolah umum dan tak ada pelajaran agama. Said Nursi tak pernah menyepelekan ilmu umum. Ulama' itu pun berkata, "Agama adalah penerang hati, pengetahuan peradaban adalah penerang akal."

Sadar dengan sepenuh jiwa bahwa bangsanya sudah dijajah dengan cara halus lewat ilmu pengetahuan yang dipelintir, Said Nursi pun sempat andil dalam permainan politik di pemerintahan. Niatnya tulus untuk tetap melindungi Turki supaya kekuasaan kholifahnya tidak runtuh. Tapi apa boleh buat, Said malah terjebak dalam permainannya sendiri. Belum sempat membangun universitas dan menyelamatkan madrasah-madrasah dari rezim ateis dan sekuler, kholifah Turki sudah runtuh.

Sebuah kalimat populer pun diucapkan Badiuzzaman Said Nursi "Audzubillah minasy syaitan was siyasah". Meski pada akhir pemerintahan Mustofa Kemal Ataturk, Badiuzzaman mendukung partainya Adnan Manderes, itu karena partai tersebut berjanji akan mengembalikan cahaya islam kepada Turki.

Akibat pemelintiran ilmu penegetahuan ini, membuat Turki sesaat menjadi gelap. Tak boleh ada yang membaca al-qur'an, pakaian islam dihapus, tulisan arab tak boleh, sholat dan adzan pakai bahasa Turki, tak ada cahaya iman di sana, Turki yang awalnya menjadi pusat peradaban islam, pada masanya kehilangan jati diri akibat 'dijajah rezim sekuler'.

Hay, seharusnya kita belajar banyak dari tempat cantik bernama Turki, bahwa pendidikan itu harus di lakukan dengan baik dan benar, pun dengan pendidikan agama dan umum. Sementara untuk urusan politik, ah sejak zaman bumi datar sampai bumi bulat itu menjadi benang kusut yang susah diurai.